Rabu, 24 Juni 2009

BEBERAPA KITAB SYARAH SHAHIH BUKHARI

Beberapa Kitab Syarah dan Mukhtashar Kitab Jami’us Shahih al-Bukhari
Kitab Syarah al-Bukhari yang termasyhur
Belum ada kitab hadits yang mendapat perhatian besar dari umat Islam selain kitab shahih al-Bukhari. Para ulama memberikan perhatian kepadanya dan mensyarahkan semua hadits yang terdapat dalam kitab itu, mengistinbat hukum darinya, meneliti para perawinya, menjelaskan kata-kata yang sulit dan seterusnya.
Buku syarah hadits ini cukup banyak jumlahnya. Menurut pengarang Kasyfuz Zunun, tidak kurang dari 82 macam. Belum termasuk buku syarah yang ditulis sesudah Kasyfuz Zunun. Diantara kitab syarah yang paling terkenal ialah:
1. Al-Kawakibud Durari fi Syarhil Bukhari
Kitab syarah ini ditulis oleh al-Allama Syamsudin Muhammad bin Yusuf bin Ali al-Kirmani (w. 786 H).
Dalam kitab ini, Kirmani banyak menjelaskan kata-kata yang sulit dan kedudukan kata-kata (i’rab) yang masih samar. Juga meneliti riwayat-riwayat, nama dan julukan para perawi dan membedakan nama-nama mereka (bila ada kesamaan) serta mengkompromi hadits-hadits yang tampak bertentangan. Kitab ini selesai ditulis di Makkah pada tahun 775 H. Ibnu Hajar dalam ad-Durarul Kanimah-nya mengomentari kitab ini sebagai berikut: “Kitab ini merupakan syarah yang sangat berguna. Tetapi banyak mengandung kelemahan dari segi penukilannya yang berasal dari beberapa buku saja”.
2. Fathul Bari bi Shahihil Bukhari
Kitab ini adalah karya al-Imam al-Hafizh Fadal Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar al-Asqalani al-Misri. Beliau dilahirkan tahun 773 dan wafat tahun 852 H. Kitab Fathul Bari ini adalah kitab syarah Shahih al-Bukhari yang paling baik dan paling lengkap.
Dalam kitab ini, al-Hafizh menjelaskan masalah bahasa dan i’rab dan menguraikan masalah penting yang tidak ditemukan di kitab lainnya, juga menjelaskan dari segi balaghah dan sastranya, mengambil hukum-hukum serta memaparkan berbagai masalah yang diperdebatkan oleh para ulama, baik menyangkut fiqih maupun ilmu kalam secara terperinci dan tidak memihak. Disamping itu, dia mengumpulkan seluruh sanad hadits dan menelitinya, serta menerangkan tingkat keshahihan dan kedhoifannya. Semua itu menunjukkan keluasan ilmu dan penguasaannya mengenai kitab-kitab hadits.
Fathul Bari mempunyai muqaddimah yang bernama Hadyus Sari. Muqaddimah ini amat tinggi nilainya. Seandainya ia ditulis dengan tinta emas, maka emas itu belum sebanding dengan tulisan itu. Sebab ia merupakan kunci untuk memahami Shahih al-Bukhari. Kitab ini selesai ditulis tahun 813 H.
Kemudian al-Asqalani mulai menulis kitab syarah. Pada mulanya uraian dan pembahasan direncanakan ditulis panjang lebar dan terperinci namun ia khawatir bila ada halangan untuk menyelesaikannya, yang mengakibatkan kitab itu selesai namun tidak sempurna. Karena itu beliau menulis kitab syarah tersebut dengan cara sederhana yang diberi nama Fathul Bari.
Penulisan kitab ini menghabiskan waktu seperempat abad. Dimulai tahun 817 H dan selesai 842 H. Maka tidak mengherankan bila kitab itu paling bagus, teliti dan sempurna. Selain itu, penulisannya dilakukan oleh penyusunnya dengan penuh keiklasan.
Setelah selesai menulis kitab syarah tersebut, al-Asqalani mengadakan resepsi agung dihadiri tokoh-tokoh Islam dengan biaya 500 dinar atau sekitar 250 pound Mesir. Kitab ini selalu mendapatkan sambutan hangat dari para ulama, baik pada masa dulu maupun sekarang, dan selalu menjadi kitab rujukan.
Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Ali as-Shan’ani asy-Syaukani, wafat tahun 1255 H, penulis Nailul Authar, ketika diminta menulis kitab syarah Shahih al-Bukhari, ia mengagumi Ibnu Hajar, dia mengutip sebuah hadits “La hijrah ba’dal fathi’” (Tidak ada hijrah setelah penaklukan Makkah). Dia meminjam istilah dari hadits tersebut sebagai ungkapan bahwa tidak ada kitab syarah shahih al-Bukhari yang melebihi Fathul Bari.
Al-Allamah Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya mengutip perkataan guru-gurunya yang mengatakan, “Mensyarah Shahih al-Bukhari adalah tugas yang dibebankan kepada umat ini”. Ucapan ini secara pasti dinyatakan sebelum adanya Fathul Bari. Dengan demikian Ibnu Hajar telah menunaikan tugas yang menjadi tanggungan umat ini.
Kitab syarah ini terdiri dari 13 jilid ditambah satu jilid muqaddimah-nya. Kitab itu sudah berulang kali dicetak di India dan Mesir. Cetakan yang terbaik diterbitkan oleh Bulaq.
3. Umdatul Qari
Kitab ini ditulis oleh al-Allamah Syaikh Badrudin Mahmud bin Ahmad al-Aini al-Hanafi. Beliau lahir tahun 762 H dan wafat tahun 855 H.
Kitab ini merupakan syarah yang sederhana, berisi riwayat hidup para perawi, menjelaskan nasab dan membahas bahasa, i’rab, ma’ani dan bayan. Di dalam kitab tersebut juga terdapat pembahasan masalah fiqih dan sastra. Penyajian kitab ini menggunakan metode tanya jawab. Diantara keistimewaan kitab ini ialah syarah dan uraian hadits yang diulang tidak mengalih ke persoalan lain. Meskipun panjang, hadits yang diuraikan itu ditulis lengkap. Sebagaimana ia menyebutkan setiap kitab terkenal yang meriwayatkan hadits bersangkutan. Penulisan kitab ini dimulai tahun 821 H dan selesai tahun 847 H. Jadi penulisannya menghabiskan waktu sekitar seperempat abad. Kitab tersebut dicetak di Mesir dan Istambul.
4. Irsyadus Sari Ila Shahihil Bukhari
Kitab ini ditulis oleh al-Allamah Syaikh Sihabudin Ahmad bin Muhammad al-Khathib al-Misri asy-Syafi’i, terkenal dengan panggilan Al-Qastallani. Wafat pada tahun 922 H.
Kitab ini lebih ringkas dibanding dengan kitab syarah yang telah disebutkan sebelumnya. Untuk menulis kitab ini, al-Qastallani banyak merujuk pendapat penulis kitab syarah terdahulu, terutama Fathul Bari. Jika diperlukan penjelasan yang lebih mendalam, penulis kitab sering mengulangi keterangannya. Dia juga mencatat yang sudah jelas bagi ulama, agar bisa difahami oleh kalangan khusus dan kalangan awam. Selain itu, dia juga menulis muqaddimah tentang kedudukan hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam agama dan perhatian umat Islam terhadapnya, baik berupa hafalan, pengumpulan maupun pembukuannya. Kitab syarah ini dicetak berulangkali.
Mukhtashar Jami’us Shahih
Diantara kitab mukhtashar (ikhtisar/ringkasan) Jami’us Shahih al-Bukhari ialah:
1. Bahjatun Nufus Wa Gayatuha
Mukhtashar ini ditulis oleh Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Sa’ad bin Abu Jamrah al-Andalusi. Beliau wafat tahun 695 H. Kitab ini memuat sekitar 300 hadits. Ikhtisar ini diberi syarah dengan nama Bahjatun Nufus wa Gayatuha bi Ma’rifati Ma laha Wama Alaiha. Uraiannya banyak ditekankan dari segi makna daripada lafazh, dan lebih memperhatikan segi akhlak daripada hukum.
Selain itu, kitab ini mengungkap persoalan hakikat dan pentakwilan, serta pelajaran yang belum pernah didapatkan di kitab lain. Ibnu Hajar terkadang mengutip beberapa bagian dari kitab ini. Kitab ini telah dicetak dan beredar luas.
2. Mukhtashar Imam Zainuddin
Mukhtashar ini ditulis oleh Imam Zainuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Latif as-Syarij az-Zubaidi. Wafat tahun 893 H. Beliau membuang hadits yang disebutkan berulang-ulang, mengumpulkan hadits-hadits semakna yang asalnya terpisah di beberapa bab. Beliau hanya menyebutkan nama shahabat saja tanpa mencantumkan nama sanad secara lengkap. Penulisan mukhtashar ini selesai pada bulan Sya’ban tahun 889 H.
Kemudian kitab ini diberi syarah oleh Syaikhul Islam Abdullah as-Syarqawi al-Azhari. Dalam penulisan syarah ini, ia berpegang pada pendapat para ulama terdahulu, terutama penulis Fathul Bari. Mukhtashar ini juga diberi syarah oleh Hasan Sadiq Khan Malik Bahubal di India. Kedua kitab syarah tersebut telah diterbitkan.
Disalin dari Dr. M. Muhammad Abu Syuhbah.1999. “Kutubus Sittah”. Terbitan Pustaka Progressif. Surabaya. Cet-2, Januari 1999.

1 komentar: